Gimana sih kasus Bank Century itu?

Standard

Century-demo-nasabah-indro-dalam

Awal mula berdirinya Bank Century adalah saat Bank Indonesia memberikan persetujuan merger atas 3 (tiga) Bank yang 2 (dua) diantaranya adalah Bank bermasalah, yaitu Bank Century Intervest Corporation (Bank CIC), Bank Pikko dan Bank Danpac, pada tanggal 06 Desember 2004 untuk menjadi sebuah Bank baru yaitu Bank Century.  Ketiga Bank ini dimiliki oleh  pemegang saham pengendali yang sama yaitu Chinkara Capital Ltd, yang berdomisili di Kepulauan Bahama.

Chinkara Capital Ltd sebelumnya telah melakukan akuisisi terhadap Bank Pikko, Bank Danpac dan kepemilikan saham Bank CIC, dimana persetujuan prinsip atas akuisisi tersebut diputuskan oleh Bank Indonesia melalui Rapat Dewan Gubernur BI tanggal 27 November 2001. Bank CIC sendiri sebagai cikal bakal Bank Century, didirikan oleh Robert Tantular pada tahun 1990. Bank Indonesia mendorong Bank CIC untuk merger dengan Bank Pikko dan Bank Danpac selain karena kepemilikan yang sama, adalah juga untuk mempermudah pengawasan dan pengendaliannya (sumber: Deputi Direktur Direktorat Pengawasan Bank I BI Heru Kristyana dalam http://www.detikfinance.com, 2009 ).

Sebagai Bank hasil merger dari Bank-Bank yang bermasalah, Bank Century  mendapatkan warisan permasalahan yang cukup pelik. Saat merger dilakukan, Bank CIC   mewariskan kerugian operasional yang cukup signifikan, dimana pada periode 4 (empat) bulan yang berakhir pada 30 April 2004, kerugiannya mencapai Rp. 260 juta.  Sementara itu, Bank Pikko juga mewariskan permasalahan kepada Bank Century dimana terdapat kredit yang dikategorikan macet dan membukukan kerugian operasional sebesar Rp. 392.457 juta pada periode yang berakhir 30 April 2004.   Dari ke 3 (tiga) Bank tersebut, hanya Bank Danpac saja yang pada saat akan dilakukan merger masih dapat membukukan laba sebesar Rp. 9.030 juta per 30 April 2004.

Setelah merger, komposisi para pemegang saham Bank Century adalah sebagai berikut :

  1. Clearstream Banking SA Luxembourg sebesar 11,15 % .
  2. First Gulf Asian Holding Limited / Chinkara Capital Ltd ( Rafat Ali Rizvi dan Hesham Talaat Mohammed Al Warraq ) sebesar 9,55%.
  3. PT Century Mega Investindo ( Robert Tantular )  sebesar 9,00%.
  4. PT Antaboga Delta Sekuritas sebesar 8,78%.
  5. PT Century Super Investindo ( Robert Tantular ) sebesar 5,64%.
  6. Publik sebesar 55,88%

Walaupun ke 3 (tiga) Bank tersebut telah melakukan merger dan berganti nama menjadi Bank Century, permasalahan yang dibawa oleh Bank CIC dimana terdapat Surat Surat Berharga (SSB) Valuta Asing senilai sekitar Rp. 2 triliun yang tidak berperingkat, terus muncul dalam neraca Bank Century. Meskipun demikian, Bank Century masih bisa mendapatkan kepercayaan dari masyarakat dimana adanya simpanan dalam jumlah besar dari deposan besar seperti Budi Sampoerno (salah satu pemilik PT. HM Sampoerna), PT. Timah, Tbk dan PT. Jamsostek.

Sejak merger sampai dengan bulan November 2008, kondisi Bank Century tak juga mengalami perbaikan yang berarti, dimana Bank tersebut harus berulang kali masuk dalam pengawasan intensif Bank Indonesia. Bank Century juga mulai mengalami kesulitan likuiditas karena beberapa deposan besar mulai menarik dana mereka.

Dan puncaknya adalah pada tanggal 13 November 2008, dimana Bank Century mengalami gagal kliring sehingga terjadi penarikan dana besar-besaran (rush), dimana total simpanan yang ditarik oleh nasabah sepanjang November hingga Desember 2008 mencapai Rp. 5,67 triliun. Selain itu, dugaan kejahatan perbankan yang dilakukan oleh para pemegang saham dan pengurus  semakin memperparah kondisi Bank Century.

Bank Century kemudian diambil alih oleh pemerintah melalui Lembaga Penjamin Simpanan ( LPS ) dan memperoleh Bail Out ( dana talangan ) senilai total Rp. 6,76 triliun yang dikucurkan sepanjang rentang waktu 21 November 2008 sampai dengan bulan Juli 2009.

Pada tanggal 02 Oktober 2009, Bank Century secara resmi mengubah namanya menjadi Bank Mutiara, dimana 99,99% sahamnya dimiliki oleh pemerintah dalam hal ini Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).  Beberapa pemegang saham Bank Century, diantaranya Robert Tantular (Pemegang Saham), Lila Gondokusumo (Direktur Pemasaran) dan Hermanus Hasan Muslim (Direktur Utama), harus berhadapan dengan hukum karena kejahatan perbankan, sementara 2 (dua) pemegang saham lainnya yaitu Rafat Ali Rivzi dan Hesham Al Warraq menghilang. Selain itu, pemerintah juga melakukan penggantian terhadap Direktur Utama Bank Century, dimana pemerintah menunjuk Maryono , mantan Group Head Jakarta Network PT. Bank Mandiri sebagai Direktur Utama menggantikan Hermanus Hasan Muslim.

Sampai saat ini, Bank Mutiara ( d/h Bank Century ) masih tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode BCIC, walaupun sudah tidak lagi memiliki saham publik karena kepemilikan saham tunggal oleh LPS.  Hanya saja status nya saat ini masih bersifat suspen (pembekuan sementara).

A.    Latar Belakang timbulnya permasalahan.

Sebelum dilakukan merger,  Bank CIC, Bank Pikko dan Bank Danpac telah diakuisisi oleh Chinkara Capital Ltd pada tanggal 05 Juli 2002. Dari hasil audit investigasi BPK yang dilakukan setelah kasus ini mencuat, ditemukan beberapa pelanggaran, yaitu tidak dipenuhinya persyaratan administratif oleh Chinkara Capital Ltd yaitu:

–          Tidak dilakukannya publikasi atas akuisisi oleh pihak Chinkara Capital Ltd

–          Chinkara Capital Ltd tidak memberikan laporan keuangan untuk  3 tahun terakhir

–          Tidak adanya rekomendasi dari pihak berwenang di negara asal Chinkara Ltd.

Dengan tidak terpenuhinya persyaratan administrative tersebut sebenarnya mencerminkan kemampuan Chinkara Capital Ltd untuk mengakuisisi ke 3 (tiga) Bank tersebut masih patut dipertanyakan.

Selain itu, pada saat Rapat Dewan Gubernur BI tanggal 27 November 2001, Bank Indonesia melalui Direktorat Bidang Hukum menyampaikan adanya indikasi banyaknya transaksi pada Bank CIC yang bersifat penipuan dan melibatkan Chinkara, sehingga dana yang digunakan oleh Chinkara untuk mengakuisisi Bank CIC, Bank Pikko dan Bank Danpac belum dinyatakan bebas dari money laundering. Berbagai pelanggaran juga dilakukan oleh manajemen Bank Century yaitu diantaranya:

–          Ditemukannya transaksi Surat-Surat Berharga (SSB) fiktif pada Bank CIC senilai US$ 25 juta yang melibatkan Chinkara dan terdapat beberapa SSB yang beresiko tinggi sehingga Bank wajib membentuk Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) yang mengakibatkan CAR menjadi negatif. Selain itu, adanya pembayaran kewajiban General Sales Management 102 dan penarikan Dana Pihak Ketiga dalam jumlah besar yang mengakibatkan Bank CIC mengalami kesulitan likuiditas.

–          Ditemukannya kredit yang dikategorikan macet yang diberikan Bank Pikko kepada PT. Texmaco, dan selanjutnya ditukarkan dengan Medium Term Notes (MTN) pada Dresdner Bank yang tidak memiliki notes rating, sehingga bank wajib membentuk PPAP yang mengakibatkan CAR Bank Pikko menjadi negatif.

Walaupun Chinkara Capital Ltd melakukan banyak pelanggaran, Bank Indonesia dalam rapat tersebut akhirnya memutuskan untuk menyetujui akuisisi Chinkara Capital Ltd  dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh Chinkara Capital Ltd, yaitu :

  1. Melakukan merger terhadap ke 3 (tiga) Bank tersebut.
  2. Memperbaiki kondisi Bank.
  3. Mencegah terulangnya tindakan melawan hukum.
  4. Mencapai dan mempertahankan CAR 8%.

Dalam Rapat Dewan Gubernur tersebut juga diputuskan, bahwa apabila kelak ditemukan pelanggaran atas persyaratan tersebut, ijin akuisisi tersebut dapat dibatalkan.

Surat Ijin Akuisisi kemudian diterbitkan pada tanggal 05 Juli 2002 dan Bank Indonesia meminta Chinkara Capital Ltd mengajukan permohonan ijin merger dan menjalani Fit and Proper Test. Apabila setelah dilakukan pemeriksaan, terbukti Chinkara melakukan pelanggaran, maka persetujuan akuisisi dibatalkan, dan Chinkara Capital Ltd harus melepaskan semua kepemilikan sahamnya pada Bank Bank di Indonesia. Akan tetapi, penerbitan Surat Ijin Akuisisi tersebut dilakukan saat Rafat Ali Rivzi sebagai pemegang saham pengendali dinyatakan oleh Bank Indonesia tidak dilanjutkan / tidak diproses hasil penilaian Fit & Proper Test nya.

Selanjutnya, Bank Indonesia melanjutkan proses merger ke 3 (tiga) bank tersebut meskipun kemudian ditemukan lagi pelanggaran yang dilakukan oleh Bank CIC dan Bank Pikko ( dalam hal ini dilakukan oleh Chinkara Capital Ltd sebagai pemegang saham pengendali ). Pelanggaran tersebut antara lain:

–          Banyak ditemukannya pengeluaran biaya fiktif senilai total US$ 1,05 juta dan Rp 15,8 milyar pada Bank CIC yang dilakukan sepanjang tahun 2001 sampai tahun 2003.

–          Adanya pemberian kredit fiktif senilai US$ 91,79 juta dan Rp 727 milyar yang ditemukan pada Bank Pikko.

–          Rasio CAR Bank CIC mulai tahun 2001 sampai dengan tahun 2003 adalah sebesar Negatif 83%, Negatif  119%, dan negative  87%, sementara pada Bank Pikko adalah sebesar Negatif 78%, negatif  59%, dan negatif 76%. Bank Danpac masih menunjukkan CAR yang positif yaitu diatas 25%.

Permasalahan inilah yang diwariskan kepada Bank Century setelah dilakukan merger terhadap Bank CIC, Bank Pikko dan Bank Danpac.

B.     Permasalahan

Permasalahan yang timbul pada Bank Century setelah dilakukan merger akan diuraikan di bawah ini:

  1. Setelah merger, CAR menjadi Negatif 132.5%

Laporan Hasil Pemeriksaan Bank Indonesia atas Bank Century, nilai CAR per 28 Februari 2005 atau 2 bulan setelah merger adalah sebesar – (negative) 132.5%. Hal ini disebabkan karena adanya asset berupa Surat Surat Berharga (SSB)  senilai US$ 203 juta yang berkualitas rendah dimana US$ 116 juta diantaranya masih dikuasai oleh pemegang saham. Hal ini menyebabkan Bank Century ditetapkan oleh Bank Indonesia sebagai Bank “ Dalam Pengawasan Intensif “.

Kemudian sebagai tindak lanjut atas status “Dalam Pengawasan Intensif” ini, Bank Indonesia meminta Bank Century untuk menjual seluruh Surat Berharga Valasnya secara tunai paling lambat sampai dengan akhir tahun 2005. Manajemen Bank Century menyanggupinya dengan mengajukan proposal penyelesaian melalui skema Penjaminan Tunai (Assets Management Agreement / AMA), dan disetujui oleh Bank Indonesia pada 21 Februari 2006. Selain itu, Bank Indonesia juga meminta Bank Century untuk menambah modal, dan pemilik Bank Century menyanggupinya dengan menambah modal sebesar US$ 25 juta, dan juga melakukan Right Issue sehingga mendapatkan dana sebesar Rp. 442 Miliar.

Sayangnya, upaya ini tidak memberikan pengaruh yang berarti bagi perbaikan kondisi Bank Century.

  1. Kesulitan Likuiditas

Pada tanggal 06 November 2008, Bank Century masuk ke status “ Dalam Pengawasan Khusus “ Bank Indonesia. Hal ini disebabkan karena rasio CAR dalam posisi 2.35% per 30 September 2008. Selain itu,  kepercayaan masyarakat terhadap Bank Century mulai menurun yang diindikasikan dengan adanya penarikan dana para deposan besar seperti Budi Sampoerna dan PT. Timah. Hal ini berakibat para nasabah lain juga melakukan penarikan dana secara besar-besaran ( Rush ) mulai bulan November sampai dengan Desember 2008, dengan nilai total dana yang ditarik mencapai Rp. 5.67 Triliun.

Kondisi semakin memburuk saat pada tanggal 13 November 2008, Bank Century mengalami kalah kliring akibat kesulitan likuiditas tersebut dan tidak dapat menyediakan dana ( prefund ).

Untuk mengatasi kesulitan likuiditas, Bank Century mengajukan permohonan Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek (FPJP) pada tanggal 30 Oktober 2008 sebesar Rp. 1 Triliun. Meskipun hal ini tidak memenuhi persyaratan dimana FPJP hanya dapat dikucurkan pada Bank yang memiliki CAR minimal 8% dan Rasio CAR Bank Century saat itu hanya sebesar 2.35%, Bank Indonesia akhirnya menyetujui untuk memberikan FPJP dengan total nilai Rp. 689,38 yang dikucurkan mulai tanggal 14 sampai dengan 18 November 2008.

  1. Bail Out dari Bank Indonesia yang menimbulkan kontroversi.

Dikarenakan kondisi Bank Century yang semakin parah, Bank Indonesia bersama Menteri Keuangan selaku Ketua Komite Stabilitas Komite Keuangan (KSSK) menggelar Rapat untuk membahas nasib Bank Century pada tanggal 20 November 2008. Hasil rapat tersebut adalah sebagai berikut:

a)      KSSK menetapkan Bank Century sebagai Bank Gagal yang Berdampak Sistemik.

b)      KSSK menyerahkan penanganan Bank Century kepada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

c)      LPS memerlukan dukungan Bank Mandiri untuk pengisian manajemen baru Bank Century sebagai bentuk dukungan professional Bank Mandiri.

d)     Berkenaan dengan butir 3, Bank Mandiri telah memiliki calon, namun perlu ada satu pengurus lama guna kesinambungan kepengurusan.

Implikasi dari keputusan tersebut adalah Bank Century telah diambil alih oleh Pemerintah dalam hal ini LPS, dan untuk menyelamatkannya melakukan penyuntikan dana yang dibagi dalam 4 (empat) tahap yaitu:

–          Tgl 23 November 2008           : Rp. 2,7 Triliun

–          Tgl 05 Desember 2008            : Rp. 2,2 Triliun

–          Tgl 03 Februari 2009               : Rp. 1,5 Triliun

–          Tgl 21 Juli 2009                      : Rp. 630 Miliar

Total dana yang disuntikkan LPS kepada Bank Century adalah sebesar Rp. 6,7 Triliun, dan inilah yang kemudian menjadi kontroversi dan polemik berkepanjangan antara pemerintah dan DPR dikarenakan pada awalnya jumlah yang diajukan dan disetujui oleh DPR hanya sebesar Rp. 1,3 Triliun.

Dari hasil audit investigasi BPK (kutipan langsung) yang dilakukan setelah kasus ini mencuat,  BPK berkesimpulan bahwa “ Bank Indonesia tidak memberikan informasi yang sesungguhnya, lengkap dan mutakhir mengenai kondisi Bank Century pada saat menyampaikan Bank Century sebagai Bank Gagal Yang Berdampak Sistemik kepada KSSK melalui Surat Gubernur BI No. 10/232/GBI/Rahasia tgl 20 November 2008. Informasi yang tidak diberikan seutuhnya tersebut adalah terkait PPAP ( Pengakuan Kerugian ) atas SSB Valas yang mengakibatkan penurunan ekuitas. BI baru menerapkan secara tegas ketentuan PPAP atas aktiva produktiv tersebut setelah Bank Century diserahkan penanganannya kepada LPS, sehingga terjadi peningkatan biaya penanganan Bank Century dari yang semula diperkirakan sebesar Rp. 632 Miliar menjadi Rp. 6,7 Triliun. “

DPR menilai biaya penyelamatan Bank Century ini terlalu besar untuk ukuran Bank kecil seperti Bank Century. Selain itu DPR menilai, penetapan Bank Century sebagai Bank Gagal yang Berdampak Sistemik tidak menggunakan kriteria yang akurat dimana Bank Indonesia lebih mengedepankan penggunaan faktor psikologis  yang tidak dapat diukur sebagai kriteria penetapan.

  1. Tindak Kejahatan Perbankan yang dilakukan oleh Pemegang Saham dan Manajemen Bank Century.

Buruknya kinerja Bank Century yang akhirnya berujung pada pemberian Bail Out dari pemerintah tersebut juga dipicu oleh kebobrokan moral para pemegang saham dan pengurus, dimana mereka melakukan beberapa tindakan melanggar hukum sebagai berikut:

a)      Salah satu pemegang saham Bank Century yaitu PT. Antaboga Delta Sekuritas, menerbitkan Reksadana fiktif yang dijual terselubung oleh Bank Century antara tahun 2002 sampai dengan tahun 2005.  Produk Reksadana ini berkarakteristik deposito dengan bunga pinjaman yang cukup dapat menggiurkan nasabah karena lebih tinggi dibandingkan bunga yang berlaku di pasar yaitu berkisar antara 12 -13%. Produk reksadana ini belum mendapatkan ijin dari BAPEPAM sehingga sifatnya illegal dan tidak didukung oleh dokumen yang memadai seperti prospectus dan bukti unit penyertaan reksadana yang ditandatangani oleh pihak penerbit. Selain produk Reksadana, PT. Antaboga Delta Sekuritas juga memasarkan produk Discretionary Funds yang juga dijual di kantor – kantor cabang Bank Century. Produk Discretionary Funds ini juga illegal.

b)      Bank Century menyalurkan kredit kepada 11 (sebelas) debitur senilai Rp. 592,24 Miliar yang penyalurannya melanggar prosedur dan kemudian kredit ini macet. Debitur – debitur ini ditengarai ada kaitannya dengan Robert Tantular, salah seorang pemegang saham Bank Century.

c)      Bank Century memberikan L/C fiktif kepada debitur yang memiliki keterkaitan dengan Robert Tantular senilai US$ 172,13 juta.

d)      Dewi Tantular ( Kepala Divisi Bank Notes Bank Century ) melakukan penggelapan atas dana dari account nasabahnya yaitu Budi Sampoerna sebesar US$ 18 juta untuk menutupi Bank Notes yang telah digunakan secara pribadi.

e)      Adanya biaya – biaya operasional yang diduga fiktif yang digunakan untuk kepentingan Robert Tantular dan pihak – pihak terkait serta untuk melunasi nasabah PT. Antaboga Delta Sekuritas senilai Rp. 211,01 Miliar dan US$ 3,75 juta.

f)       Adanya perampokan terhadap Bank Century yang dilakukan oleh pemegang sahamnya sendiri, yaitu Rafat Ali Rizvi dan Hesham Al Warraq.  Hal ini berkaitan dengan penyertaan modal mereka di Bank Century senilai US$ 203 juta dalam bentuk Surat Surat Berharga (SSB) yang ratingnya rendah dan tidak layak jual, dimana SSB tersebut dikelola oleh First Gulf Asia Holding Limited, sebuah perusahaan yang beralamat di Singapura, yang dimiliki oleh mereka sendiri. Karena Bank Century kesulitan likuiditas, mereka diminta oleh Bank Indonesia untuk menjual SSB mereka, tetapi mereka tidak menuruti, malah menyerahkan pengelolaan SSB ini pada Telltop Holdings dengan perjanjian dalam waktu 3 tahun, SSB tersebut akan dapat terjual. Sebagai jaminan bila SSB tersebut gagal terjual, maka Bank Century berhak atas uang jaminan milik Telltop senilai US$ 220 juta di Bank Dresdner. Telltop Holdings yang beralamat di British Virgin Island, belakangan diketahui ternyata juga milik Rafat Ali Rizvi dan Hesham Al Warraq. Setelah 3 tahun, ternyata SSB tersebut hanya sebagian saja yang terjual, dan itupun dananya tidak diberikan kepada Bank Century, tetapi diam-diam dialirkan ke First Gulf. Sebagai pemilik First Gulf, Rafat Ali Rizvi dan Hesham Al Warraq melakukan pencucian uang dengan menggunakannya untuk pembelian saham ke sejumlah perusahaan. Sementara itu, karena tidak berhasil menjual semua, seharusnya Bank Century berhak atas uang jaminan milik Telltop senilai US$ 220 juta di Bank Dresdner. Akan tetapi, ternyata uang jaminan tersebut sebelumnya telah dijadikan jaminan oleh Telltop saat mengikat perjanjian dengan Tarquinn Limited, sebuah perusahaan yang beralamat di Cayman Island, sehingga terjadi saling klaim atas kepemilikan uang jaminan tersebut yang membuat semakin terpuruknya Bank Century.

Permasalahan yang dihadapi Bank Century cukup rumit serta implikasinya sampai merambah ke politik dan hukum. Karena itu dalam tulisan ini hanya akan dibahas permasalahan yang berkaitan dengan hal-hal yang menjadi penyebab Bank Century mengalami kesulitan likuiditas sehingga mengalami kalah kliring, yang berujung pada dikucurkannya Bail Out dan menjadi polemik antara pemerintah dan DPR. Hal – hal tersebut antara lain:

1.      Akrobat Investasi oleh pemegang saham Bank Century.

Dalam uraian sebelumnya telah dijelaskan bahwa kebobrokan Bank Century adalah dikarenakan dalam Bank Century melekat asset-asset busuk yang berupa Surat Surat Berharga yang dibawa oleh Bank CIC, dimana setelah merger dan berubah nama menjadi Bank Century, asset busuk tersebut masih muncul dalam neraca hingga tahun 2008.

Dalam prakteknya, Bank Century lebih banyak melakukan akrobat investasi di pasar valuta asing dibandingkan menjalankan fungsi pokoknya sebagai Financial Intermediary, yaitu menghimpun dana masyarakat untuk kemudian sebagai Agent of Development menyalurkan kembali dalam bentuk kredit. Bank Century lebih banyak  melakukan kegiatan menghimpun dana pihak ketiga yang kemudian digunakan untuk membeli financial instrument yang menyesatkan sebagai sarana investasi. Dari total aset sebesar Rp. 10,4 triliun, pos pinjaman yang diberikan hanya Rp. 4 triliun (40%) termasuk di dalamnya pemberian kredit sejumlah Rp. 1,5 triliun yang lebih banyak diberikan kepada kelompok usahanya sendiri dengan menyalahi banyak prosedur.
Diluar Giro Wajib minimum dan Fixed Assets, bank melakukan investasi berupa surat berharga effek sebanyak Rp. 4,3 triliun dan penempatan call money pada bank lain sebesar Rp. 2 triliun.

Instrumen Investasi yang digunakan oleh Bank Century ( dalam hal ini Chinkara Capital Ltd sebagai pemegang saham pengendali ) dalam menginvestasikan dana dari pihak ketiganya adalah sebagai berikut:

a)      Instrumen US Treasury Strips (Separate Trading of Registered Interest and Pricipal Securities) sebanyak US$ 177 juta, yang berjangka waktu 10 tahun dan zero coupon bond alias tidak menghasilkan bunga sama sekali. Instrumen ini dimiliki oleh Bank CIC sejak tahun 2002. Sejumlah US$ 115 juta dari US Treasury strips telah dijaminkan kepada Saudi National Bank Corp untuk menjamin fasilitas L/C Confirmation. Sisanya sebesar $13 juta dipegang oleh First Gulf Asian Holdings       ( Rafat Ali Rizvi dan Hesham Al Warraq ) dan $45 juta dipegang oleh Dresdner Bank sebagai Bank Custodian.

  1. Instrumen Medium Term Notes dengan total US$ 209 juta  yang terdiri dari Credit Suisse First Boston ( CSFB ) sebesar USD 63 juta, Rabobank sebesar USD 20 juta,  Nomura Bank International Plc. London sebesar USD 67 juta, JP Morgan sebesar USD 25 juta, West LB sebesar USD 23 juta, Banca Popolare sebesar USD11 juta. Semua instrument milik Bank Century telah dijaminkan kepada Saudi National Bank Corp dan Credit Suisse untuk pembukaan fasilitas Letter of Credit, kecuali MTN JP Morgan sebesar $25 juta, dan Nomura sebesar $ 40 juta.  Bank Century tidak menguasai secara fisik instrumen tersebut dimana Instrumen yang dijadikan jaminan dipegang oleh custodian bank, sedangkan sisanya lagi-lagi dipegang oleh First Gulf Asian Holdings.
  2. Bank Century juga memiliki Negotiable CD.  Terdiri dari NCD National Australia Bank, London sebesar USD 45 juta, Nomura Bank International Plc. London sebesar USD 38 juta dan Deutsche Bank sebesar USD 8 juta.  Bank Century pun  tidak menguasai Instrumen ini secara fisik karena juga dikuasai oleh First Gulf Asian Holdings.
  3. Pada tanggal 17 Pebruari 2006, karena Bank Century masuk dalam status “ Dalam Pengawasan Intensif “,  atas persetujuan Bank Indonesia, Bank Century melakukan Perjanjian Asset Management Agreement (AMA) dengan Telltop Holdings Ltd, Singapore ( yang dimiliki juga oleh Rafat Ali Rizvi dan Hesham Al Warraq )  yang akan berakhir pada tanggal 17 Pebruari 2009, untuk menjualkan SSB nya   sebesar USD 203,4 juta. SSB ini merupakan penyertaan modal mereka pada Bank Century. Selanjutnya dalam rangka penjualan surat berharga tersebut, Telltop Holdings Ltd menyerahkan Pledge Security Deposit / Jaminan sebesar USD 220 juta di Dresdner Bank (Switzerland) Ltd. Sebelum perjanjian AMA tersebut berakhir, pada tanggal 28 Januari 2009 Bank Century telah menanyakan hasil realisasi penjualan surat-surat berharga tersebut kepada Telltop Holdings Ltd, namun hingga saat ini belum ada jawaban sehingga Bank Century mengajukan klaim atas uang jaminan sebesar USD 220 juta yang disimpan di Dresdner Bank.   Sayangnya, uang tersebut secara diam-diam oleh Rafat Ali Rivzi dan Hesham Al Warraq melalui Telltop Holdings Ltd,  telah dijadikan jaminan saat mengadakan perjanjian investasi dengan perusahaan lain, yaitu Tarquinn Ltd.
  4. Investasi dalam bentuk instrument Derivatif dalam bentuk Credit Link Notes sebesar US$ 225 juta. Instrumen ini diterbitkan oleh Deutsche Bank dan CSFB yang akan jatuh tempo pada akhir tahun 2005. Fatalnya, dana yang digunakan untuk membeli Instrumen ini adalah dana pinjaman dari fasilitas GSM 102 yang dimiliki Bank CIC dimana waktu jatuh temponya adalah pada akhir tahun 2003.

Sebelum merger ( antara tahun 2000 s/d 2001 ) Bank CIC  mendapatkan dana bantuan likuiditas GSM 102 sebesar US$953,9 juta yang diberikan oleh Commodity Credit Corp melalui USDA ( United States Department of Agriculture ). GSM 102 merupakan fasilitas pembiayaan tetap berjangka waktu tiga tahun, dalam dolar AS dengan bunga rendah. Kesulitan likuiditas Bank Century timbul selain karena Bank Century mendapatkan warisan kewajiban pembayaran GSM 102, juga karena dana pinjaman ini digunakan untuk berinvestasi dalam bentuk derivative yang sangat beresiko.

Sejumlah kegiatan investasi dalam bentuk instrument – instrument diatas, dilakukan oleh Chinkara Capital Ltd dalam hal ini Rafat Ali Rizvi dan Hesham Al Warraq sebagai pemegang saham pengendali melalui sejumlah perusahaan miliknya yang secara notabene hanya ada di atas kertas saja, yaitu Telltop Holding dan First Gulf Asian Holdings.  Chinkara melakukan investasi dalam berbagai bentuk Instrument Investasi yang beresiko tinggi sejak Bank Century masih dalam bentuk Bank CIC dan akhirnya  membuat Bank Century mengalami kesulitan likuiditas dan kolaps.

2.      Moral Hazard pemegang saham dan pengurus.

Berbagai tindakan melanggar hukum banyak dilakukan oleh pemegang saham dan pengurus / manajemen internal Bank Century, yaitu antara lain:

a)      Penjualan Reksadana fiktif PT. Antaboga Delta Sekuritas.

Manajemen Bank Century melakukan penjualan terselubung produk Reksadana PT. Antaboga Delta Sekuritas yang tidak terdaftar di BAPEPAM. Manajemen Bank Century mengalihkan dana nasabah ke dalam produk Reksadana ini tanpa sepengetahuan dan sepersetujuan nasabah. Produk ini sangat beresiko tinggi dan tidak dapat dipertanggungjawabkan karena tidak didukung oleh adanya dokumen yang memadai seperti prospectus dan bukti unit penyertaan reksadana yang ditandatangani oleh pihak penerbit. Bagi nasabah yang memang membeli produk Reksadana, awalnya karena memang mereka tergiur iming – iming bunga yang tinggi melebihi tingkat bunga yang berlaku di pasar. Walaupun terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan BAPEPAM-LK  sebagai Perusahaan Penjamin Emisi , PT. Antaboga Delta Sekuritas ini sendiri tidak pernah mencatatkan produk nya di BAPEPAM-LK karena itu produk ini illegal.  Reksadana ini dijual di setiap cabang Bank Century dan dananya ditransfer langsung ke rekening Antaboga di Bank Century yang kemudian langsung ditransfer ke rekening pribadi Robert Tantular. Tercatat dana kelolaan outstanding nasabah Century yang membeli produk Antaboga senilai total  Rp 1,5 triliun dari total 1.190 nasabah. Hal ini membuat Bank Century kesulitan likuiditas karena tuntutan nasabahnya.

b)     Tindakan penggelapan dana nasabah.

Penggelapan dana nasabah dilakukan dengan modus pemberian kredit kepada 11 (sebelas) debitur senilai Rp. 592,24 Miliar yang disalurkan kepada pihak yang terkait dengan Robert Tantular yang melanggar prosedur dan kemudian macet. Selain itu juga melalui pemberian L/C fiktif senilai US$ 172,13 juta. Diperparah lagi dengan dilakukannya penggelapan dana deposan besar, Budi Sampoerna senilai US$ 18 juta untuk menutupi Bank Notes yang telah digunakan secara pribadi oleh Dewi Tantular. Intinya, Bank Century mengalami kesulitan likuiditas juga disebabkan oleh penggerogotan dari dalam oleh para pengurus / manajemen dengan berbagai modus.

SUMBER DAN KEPUSTAKAAN:

  1. Majalah Gatra No. 9, Ekonomi, “ Lunaknya BI Licinnya Rafat Ali” , 03 Januari 2010
  2. http://nasional.kompas.com/read/2010/02/13
  3. http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010
  4. http://bisnis.vivanews.com/news/read
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s