Love yourself

Standard

FOTO KELUARGA

Tubuh kita punya hak untuk beristirahat. Begitu banyak kejadian dan kasus dimana mereka yang mengabaikan hak – hak tubuh, menemui bermacam masalah kesehatan, bahkan sampai terenggut nyawanya, seperti yang dialami oleh Nita Diran, seorang jurnalis pekerja keras yang meninggal setelah bekerja lembur 30 jam. Kejadian itu membuat saya teringat dengan pengalaman pribadi saya saat saya mengabaikan hak – hak tubuh.

Malam itu, 2 tahun yang lalu, saya merasakan kelelahan yang lebih dari biasanya. Ya, sebagai seorang ibu rumah tangga, sekaligus tenaga pengajar yang sedang berjuang menyelesaikan S2, saya sudah terbiasa merasakan lelah. Kelelahan itu biasanya datang pada akhir aktivitas saya seharian, yaitu setiap malam sepulang kuliah yang dilaksanakan 5 hari dalam satu minggu.  Seperti malam-malam sebelumnya, saya  mengatasi kelelahan itu dengan meminum multivitamin terbaik, dan hasilnya,  saya kembali bugar keesokan harinya. Saya pun bisa menjalani hari – hari saya yang padat, dan masih sama melelahkannya.

Satu minggu berlalu, saya merasakan keanehan dalam tubuh saya. Multivitamin 1 x 1 kapsul sehari sudah tak bisa lagi mengatasinya. Tulang-tulang saya serasa remuk. Saya pun merasakan ngantuk dan lesu yang teramat sangat. Saya pikir ini efek dari jam tidur malam saya setiap hari yang rata-rata hanya antara 3 – 5 jam saja dalam 1 hari. Bagaimana tidak….hampir setiap hari saya tiba di rumah sepulang kuliah jam 22.00. Saya tidak bisa langsung tidur setelah itu. Terkadang saya harus menyiapkan materi mengajar untuk besok pagi, dan terkadang saya harus menyelesaikan tugas kuliah saya yang besoknya harus dikumpulkan. Berbeda dengan saat menempuh S1, tenaga dan pikiran saya sangat terkuras saat menempuh S2, sehingga rata-rata saya baru bisa tidur menjelang jam 01.00 dan bangun Subuh untuk memasak dan menyiapkan keperluan sekolah anak saya, keperluan kerja suami saya dan juga diri saya sendiri.

Saya melawan sakit yang saya rasakan dengan banyak makan. Saya memang hobby makan, termasuk jajan di luar dan saya memang tak pernah berpantang makanan tertentu.  Saya tak lupa meminum multivitamin yang sama, bahkan saya tambah dosisnya 3 x sehari. Lumayanlah,  setelah itu saya masih bisa melalui hari-hari saya yang sibuk dengan lancar. Bahkan, saat libur Hari Raya Kurban pun, saya masih sanggup memasak gulai dan sop buntut dalam porsi besar, dalam satu hari dan sendirian, tanpa bantuan ART saya yang sedang pulang kampung.  Benar-benar memakai tenaga kuda, pikir saya saat itu.

Akan tetapi, rupanya tubuh saya berontak. Satu minggu setelah itu, saya merasakan jari kaki dan tangan saya membengkak dan kaku untuk digerakkan. Perut saya  di bagian atas saya rasakan mengeras, mual, pusing, mulut pahit, dan demam. Saya mengatasinya dengan meminum parasetamol, obat sakit kepala dan obat asam urat karena saya pikir mungkin karena makan tak terkontrol pasca Idul Kurban. Sehari-dua hari, saya merasa semakin parah. Saya tidak kuat lagi berjalan dan bengkak pun semakin menjadi. Setelah berkonsultasi dengan dokter, saya diminta untuk cek darah. Saya sempat punya pikiran buruk, jangan jangan liver saya bermasalah. Hasil test darah akhirnya membuktikan hal itu. SGOT/SGPT di atas batas normal, dan diagnosisnya adalah gejala liver atau hepatitis A. Saya harus bedrest minimal 7 hari dan stop semua obat selain obat liver, termasuk multivitamin. Atas anjuran orang tua, sehari dua kali saya harus meminum temulawak yang sudah diblender dan diambil airnya.

Saya lalu mengintrospeksi diri saya sendiri. Ya, pola makan yang salah seperti banyak jajan di luar dan makan tidak teratur menjadi salah satu pemicunya. Ditambah lagi, saya selalu menyepelekan rasa lelah dan kurang tidur, menganggap lelah bisa diatasi dengan multivitamin. Padahal, tak ada obat yang paling mujarab untuk mengatasi kelelahan selain beristirahat yang cukup, sehingga tubuh memiliki kekebalan dari serangan virus-virus berbahaya, termasuk virus hepatitis yang menyerang liver. Dokter mengatakan, liver atau hati, adalah benteng terakhir pertahanan tubuh kita yang bila terganggu fungsinya, maka akan mengganggu fungsi organ yang lain. Dan saya telah membuktikannya.

Saya banyak mengambil pelajaran dari kejadian yang saya alami. Pertama, saya harus merubah pola hidup saya. Cukup istirahat, makan makanan yang sehat, tidak banyak jajan di luar dan makan tepat waktu. Kedua, saya merubah cara berpikir saya yang terkadang terlalu ngoyo dan memaksa diri saya sendiri. Saya sadar, bahwa saya harus lebih mencintai diri saya sendiri. Bila tidak, saya tidak akan bisa memberikan cinta saya secara optimal kepada suami dan anak yang masih membutuhkan diri saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s