Edensor: Pelajaran tentang hitam, putih dan abu – abu untuk Aqis

Standard

edensor

Saat saya memutuskan menuruti ajakan Aqis untuk menonton film Laskar Pelangi 2 di bioskop, sempat terbersit keraguan dalam hati, sudah siapkah Aqis dan juga sudah siapkah saya menjawab berbagai pertanyaan darinya yang mungkin timbul sepanjang pemutaran film.  Berbeda dengan sekuel pertamanya yang masih banyak peran anak anaknya, sekuel ke 2 yang bertajuk Edensor ini lebih dewasa. Sebagai orang yang pernah membaca novelnya, saya sempat takut akan banyak dialog dan adegan yang belum saatnya ditonton oleh ABG umur 10 tahun.

Tapi toh akhirnya saya turuti  juga keinginannya, hitung-hitung sebagai kompensasi karena liburan akhir tahun ini saya dan suami tak bisa maksimal bersamanya, sama – sama sedang gas pol dengan pekerjaan masing – masing. Dan hasilnya, baik saya dan Aqis sama- sama banyak belajar tentang hitam, putih dan abu-abunya dunia fana ini.

Pada bagian awal film, saya masih tenang karena masih terdapat beberapa flashback masa kecil Ikal dan Arai yang membuat kami tertawa dan juga terharu. Setidaknya, masih ada unsur anak-anaknya. Hanya pada saat adegan dimana Ikal dan ayahnya mendapati Cik Weh mati bunuh diri tergantung di kapal, saya sedikit disergap rasa takut karena melihat wajah Aqis yang tegang dan penuh tanda tanya. “ Mama, mengapa orang baik bisa bunuh diri? Mama…sakit apa Cik Weh sehingga dia bunuh diri? Apa dia tak beragama?”  Nah, jadilah saya sebagai pengganti Ustadzahnya di kelas saat menjelaskan betapa dahsyatnya syaitan meruntuhkan iman manusia yang tidak kuat pada tekanan hidup.

Bagian awal film ini juga sukses membuat semangat Aqis meroket. Keberhasilan seorang anak desa yang sederhana dan perjuangannya bisa melecut semangatnya mencapai cita-citanya. “ Aku juga mau dapat beasiswa seperti  itu !  Waaahhh…Paris…kira-kira bisa ngga mah aku seperti mereka?” Itu komentarnya. Dan, saya pun jadi ikut bersemangat seperti semangatnya Dirijen Paduan Suara saat melihat anggotanya bersemangat mengeluarkan suara.

Memasuki bagian tengah hingga klimaks adalah waktu tersulit buat saya. Beberapa adegan pacaran Ikal dan si bule Katya membuat saya deg – degan, walaupun adegan tersebut sudah dibuat sangat-sangat-sangat sopan.    Dan juga dialog – dialog dewasa Ikal dengan teman-temannya, para Paethetic Four. Mulai muncul pertanyaan yang menuntut saya berpikir tentang jawaban cerdas. “ Mama..apakah sex itu? Mama..mengapa Ikal bergandengan tangan dengan bukan muhrimnya? Mama…Apakah Ikal masih ingat sholat? “. Sambil menjelaskan, saya berusaha untuk memperlakukan Aqis bukan sebagai “my baby girl” lagi. Mau tidak mau saya harus mulai menjelaskan tentang “relationship” antar lawan jenis.  Disinilah saya merasakan betul, betapa keputusan saya dan suami untuk  menyekolahkan Aqis di sekolah Islam sejak level Play Group adalah keputusan yang tepat. Pondasi itu cukup tertanam kuat.

Disini saya dengan sangat hati – hati menjelaskan pada Aqis (sekaligus juga pada saya sendiri akhirnya) betapa dunia ini penuh dengan abu-abu. Seorang  pemuda muslim taat yang berbakti pada orang tua, saat dikepung oleh dahsyatnya godaan syaithan di kota cinta dunia, bisa membuat putihnya tercampur oleh hitam dan menjadi abu – abu.   Untungnya, konflik Ikal dan Arai yang diakhiri permintaan maaf dan disertai penyesalan oleh Ikal, berhasil membuat Aqis yakin bahwa tokoh sentral film tersebut tidak terlalu lama menjadi abu-abu.  Buruknya nilai kuliah Ikal  akibat terlalu banyak pacaran, menjadi pintu masuknya saya untuk menyelipkan pesan sponsor utama   “ Tugas Utama Pelajar adalah Belajar”. Dan adegan sholat berjamaah Ikal dan Arai yang telah berbaikan, cukup membuat Aqis lega.

Setelah kami selesai menonton film itu, saya merasa berkewajiban untuk mereview beberapa hal yang tidak saya jelaskan secara maksimal dalam film kepada Aqis,  yang intinya adalah bahwa dunia ini berisi warna hitam, putih dan abu-abu. Keimanan dan ketaqwaan kita pada Allah selalu bisa menjaga kita tetap berada dalam warna putih. Dunia ini juga banyak berwarna abu-abu karena disitulah syaitan bermain, dan jangan sampai berubah menjadi warna hitam.  Aqis pun nampaknya cukup memahami dan saya yakin, film ini bisa membuka cakrawala nya tentang dunia. Sedangkan buat saya, pelajaran yang saya ambil adalah bahwa saya mulai menyadari bahwa Aqis sudah bisa saya persiapkan untuk menjadi gadis yang akan memasuki masa akil baliq yang cukup paham, apa yang diinginkan orang tuanya dan yang diinginkan oleh Tuhannya. Insya Allah.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s