Perdagangan Internasional, Globalisasi Ekonomi dan Permasalahannya

Standard

trade

PENGERTIAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Perdagangan atau pertukaran mempunyai arti khusus dalam ilmu ekonomi, dimana perdagangan diartikan sebagai proses tukar menukar yang didasarkan atas kehendak sukarela dari masing – masing pihak. Aspek “kehendak sukarela” menjadi penting dalam perdagangan karena perdagangan hanya akan terjadi apabila paling tidak ada satu pihak yang memperoleh keuntungan / manfaat dan tidak ada pihak lain yang merasa dirugikan.

Sehingga bisa dikatakan, pertukaran atau perdagangan itu timbul karena salah satu atau kedua belah pihak melihat adanya manfaat / keuntungan tambahan yang bisa diperoleh dari pertukaran tersebut (gains from trade).

Perdagangan Internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Penduduk yang dimaksud dapat berupa antar perorangan (individu dengan individu), antara individu dengan pemerintah suatu negara atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain. Bila dibandingkan dengan pelaksanaan perdagangan di dalam negeri, maka perdagangan internasional sangatlah rumit dan kompleks. Kerumitan ini disebabkan oleh faktor-faktor antara lain :

  1. Pembeli dan penjual terpisah oleh batas-batas kenegaraan.

2.      Barang harus dikirim dan diangkut dari suatu negara kenegara lainnya melalui bermacam peraturan seperti pabean, yang bersumber dari pembatasan yang dikeluarkan oleh masing-masing pemerintah.

3.      Antara satu negara dengan negara lainnya terdapat perbedaan dalam bahasa, mata uang, taksiran dan timbangan, hukum dalam perdagangan dan sebagainya.

SEJARAH PERDAGANGAN INTERNASIONAL.

1. Revolusi Industri Fase Pertama

Revolusi Industri adalah perubahan yang cepat di bidang ekonomi yaitu dari kegiatan ekonomi agraris ke ekonomi industri yang menggunakan mesin dalam mengolah bahan mentah menjadi bahan siap pakai. Revolusi Industri telah mengubah cara kerja manusia dari penggunaan tangan menjadi menggunakan mesin. Istilah “Revolusi Industri” diperkenalkan oleh Friedrich Engels dan Louis-Auguste Blanqui di pertengahan abad ke-19.

Pada abad pertengahan, kehidupan di Eropa diwarnai oleh system feodalisme yang mengandalkan sektor pertanian, lazim disebut Latifundia (pertanian tertutup). Hubungan perdagangan antara Eropa dengan dunia Timur (Timur Tengah dan Asia) tertutup setelah perdagangan di Laut Tengah dikuasai oleh para pedagang Islam abad ke 8 sampai abad ke 14. Dengan meletusnya perang salib (1096-1291) hubungan Eropa dengan dunia Timur hidup kembali. Muncul kota-kota dagang antara lain Geooa, Florence dan Venesia yang semula menjadi pusat pemberangkatan pasukan salib ke Yerusalem. Lahirnya kembali kota-kota dagang diikuti oleh munculnya kegiatan industri rumahan (home industry). Dari kegiatan ini terbentuklah Gilda yaitu perkumpulan dari pengusaha sejenis yang mendapat monopoli dan perlindungan usaha dari pemerintah. Gilda hanya memproduksi jika ada pesanan dan hanya satu jenis barang yang diproduksi misalnya gilda roti, gilda sepatu, gilda senjata dan lain-lain.

Sejak tahun 1350 (abad 14) muncul organisasi perserikatan kota-kota dagang di Eropa utara yang disebut Hansa. Tujuan pembentukan Hansa adalah untuk bersama-sama melindungi usaha perdagangan didukung oleh armada laut dan pasukan sendiri. Kemudian pada abad 15 dan 16, ditemukan banyak wilayah baru atau tanah jajahan di Afrika, Asia, dan Amerika oleh pelaut-pelaut Eropa sehingga berkembanglah perdagangan lewat laut yang kemudian mengakibatkan terbentuknya kaum borjuis yang kaya dan sangat berpengaruh di Inggris, Nederland, Prancis, beberapa daerah di Jerman dan Italia. Kemunculan golongan menengah ini yang menguasai sektor ekonomi dan melahirkan kapitalisme, akhirnya melahirkan ketegangan dengan tuan tanah yang telah mendominasi sebelumnya.

Revolusi Industri ditandai dengan keberhasilan para filsuf dan karya-karya mereka. Mereka berupaya memperluas kemampuannya dalam menguasai alam dan memperbanyak pengetahuannya. Yang terpenting, dalam kaitannya dengan ekonomi, mereka bertekad mengurangi dan mengganti kerja kasar atau tenaga manusia dengan mesin. Kecenderungan ini terjadi menjelang tahun 1750, di Prancis, Jerman, Nederland dan terutama di Inggris. Dengan adanya bahan mentah yang melimpah dari tanah jajahan ditambah kecenderungan untuk efisiensi kerja untuk menghasilkan yang sebesar-besarnya, maka perdagangan yang ada saat telah menghapus ekonomi semi-statis abad-abad pertengahan menjadi kapitalisme yang dinamis yang dikuasai oleh pedagang, bankir, dan pemilik kapal. Inilah awal perubahan yang cepat dan keras dalam dunia ekonomi yang kemudian memunculkan Revolusi Industri, yang bukan hanya bergerak dalam perdagangan, tetapi juga pada dunia produksi.

Tidak diketahui kapan tepatnya revolusi industri dimulai. Ada yang berpendapat bahwa revolusi industri dimulai sejak Abad Pencerahan, bahkan ada juga yang berpendapat sejak masa Yunani. Akan tetapi secara umum dikatakan bahwa revolusi industri berawal dari negara Inggris sekitar tahun 1760. Inggris mendahului negara lainnya dalam hal pembangunan pabrik yang menggunakan mesin berat. Revolusi industri, pertama kali, ditandai dengan penggunaan mesin untuk pabrik pemintalan kapas. Dari tahun 1760 sampai 1870 banyak disaksikan penggunaan mesin-mesin ini. Salah satu yang dikembangkan adalah mesin pemintal benang  yang diciptakan James Hargreaves, pada tahun 1767, yang diambil dari nama istrinya. Hanya saja, mesin ini ternyata tidak kuat, sampai di temukannya kerangka air oleh Ricard Arkwight dua tahun kemudian.

Pada tahun 1779, Samuel Croupton menggabungkan alat pemintal dengan karangka air menjadi sebuah mesin.  Salanjutnya, ditemukan juga mesin tenun oleh Cartwright pada tahun 1785 yang disempurnakan beberapa tahun kemudian. Penemuan-penemuan ini, pada gilirannya mendorong munculnya sistem pabrik. Sebab, mesin pemintal benang, kerangka air, penggulung benang dan lainnya adalah mesin besar dan berat yang tidak bisa dipasang di kedai yang dioperasionalkan oleh seorang pekerja. Artinya disini perlu dana dan lahan yang besar. Untuk itulah maka pertama kalinya tahun 1771 Ricard Arkwright  penemu  mesin kerangka air mendirikan sebuah pabrik.

Pada perkembangan selanjutnya dengan ditemukan mesin uap yang bisa dipergunakan sebagai penggerak mesin berat, sistem pabrik menjadi semakin berkembang. Pada gilirannya, sistem kerja mesinmesin dalam pabrik ini kemudian melahirkan temuan-temuan mesin baru yang mendorong lahirnya industri-industri besar berikutnya. Pada tarap berikutnya, munculnya industri-industri besar hasil penemuan mesin-mesin sebelumnya, melahirkan penemuan dalam bidang tranportasi, kereta api, kendaraan bermesin (otomobil), navigasi uap (kapal uap), telegram dan alat-alat pertanian.

Kenyataan ini, pada gilirannya juga melahirkan industri baru untuk mendukung penemuan-penemuan tersebut. Penemuan penemuan lainnya :

a. John Kay menemukan kumparan terbang.

b. Edmund Cartwright menemukan alat tenun dengan tenaga uap tahun 1785.

c. James Watt menemukan mesin uap yang dipatenkan pada tahun 1796.

d. George Stephenson menemukan Kereta Api pada tahun 1829.

Penemuan berikutnya tidak hanya dibidang mesin produksi tekstil saja tetapi juga alat transportasi darat, laut dan udara, elektronika yaitu pesawat telepon, telegraph dan radio serta bidang kimia. Penemuan tidak hanya di Inggris melainkan juga merambah ke negara lain seperti Perancis, Italia, Belanda, Amerika Serikat , dst. Pada tahun 1851 ratu Victoria membuka pameran mesin-mesin. Selain itu pada tampak bertebaran pusat-pusat industri dan pertambangan di seluruh Inggris.

2. Revolusi Industri Fase ke II

Setelah berjalan satu abad, sekitar tahun 1860, Revolusi Industri memasuki fase baru yang berbeda dari apa yang sudah lalu, yang dikenal sebagai Revolusi Industri fase kedua. Kejadian-kejadian yang terjadi pada periode itu terutama ada tiga hal : perkembangan proses Bessemer dalam membikin baja pada tahun 1856; penyempurnaan dinamo pada tahun 1873; dan penciptaan mesin pembakaran di dalam pada tahun 1876.

Perbedaan antara Revolusi Industri tahap kedua ini dibanding tahap pertama adalah, (1) digunakannya baja menggantikan besi sebagai bahan industri pokok; (2) digunakannya gas dan minyak menggantikan batu arang dengan sebagai sumber pokok tenaga dan penggunaan listrik sebagai bentuk pokok tenaga industri; (3) perkembangan mesin otomatis dan peningkatan yang tinggi spesialisasi buruh; (4) penggunaan campuran dan metal yang ringan dan hasil industri kimia; (5) perubahan radikal dalam transportasi dan komunikasi; (6) pertumbuhan bentuk-bentuk baru organisasi kapitalis; dan (7) tersiarnya industrialisasi di Eropa Tengah dan Timur dan bahkan di Timur Jauh.

Dampak negatif revolusi industri khususnya di Inggris adalah upah buruh yang murah menyebabkan timbulnya keresahan yang berakibat pada munculnya kriminalitas dan kejahatan. Upaya untuk memperbaiki nasib buruh dan masalah sosial di Inggris melahirkan aliran sosialisme dan revolusi sosial yang ditandai dengan keluarnya undang-undang berikut ini :

1. Catholic Emancipation Bill (1829) menetapkan hak yang sama bagi umat protestan dan katolik.

2. Abolition Bill (1833) berisi penghapusan system perbudakan di daerah jajahan Inggris.

3. Factory Act (1833) yang menetapkan undang-undang pekerja kaum wanita dan anak-anak.

4. Poor Law (1834) berisi pendirian rumah-rumah bagi pengemis, penganggur dan usia lanjut.

C. Penyebab Timbulnya Perdagangan Internasional

Ada beberapa tokoh yang mengemukakan teori tentang terjadinya perdagangan internasional. Tokoh tersebut di antaranya adalah Adam Smith dan David Ricardo. Adam Smith mengemukakan teori yang disebut Theory of Absolute Advantage (Teori Keunggulan Mutlak). Menurut teori ini suatu negara disebut memiliki keunggulan mutlak dibandingkan negara lain apabila negara tersebut dapat memproduksi barang atau jasa yang tidak dapat diproduksi negara lain. Misalnya Indonesia memproduksi gas alam cair. Jepang tidak mempunyai sumber gas alam, tetapi mampu memproduksi mobil. Dengan demikian, terjadilah perdagangan barang antara Indonesia dan Jepang. Sedangkan David Ricardo mengajukan teori tentang perdagangan internasional yang disebut Theory of Comparative Advantage (Teori Keunggulan Komparatif). Menurut David Ricardo keunggulan komparatif suatu negara apabila negara tersebut dapat memproduksi suatu barang atau jasa dengan efisien dan lebih murah dibandingkan negara lain. Sebagai contoh, Indonesia dan Korea Selatan sebagai negara produsen komputer. Korea Selatan mampu memproduksi komputer dengan harga lebih murah daripada Indonesia. Korea Selatan memiliki keunggulan komparatif dibandingkan Indonesia dalam memproduksi komputer. Indonesia akan lebih untung apabila mengimpor komputer dari Korea Selatan.

Beberapa alasan yang menyebabkan terjadinya perdagangan antar negara (perdagangan internasional) antara lain :

a. Adanya perbedaan hasil produksi

Tiap-tiap negara mempunyai kekayaan alam, modal, teknologi, dan kebudayaan yang berbeda. Oleh karena itu, tiap-tiap negara mempunyai hasil produksi yang berbeda-beda. Ada negara yang dapat memproduksi suatu barang atau jasa yang melimpah, sementara ada negara yang kekurangan hasil produksi barang atau jasa tersebut tetapi memiliki barang atau jasa lainnya. Contoh Indonesia banyak menghasilkan produksi pertanian, Korea dan Jepang banyak menghasilkan barang-barang elektronik.

b. Adanya perbedaan harga barang

Harga suatu barang di tiap-tiap negara berbeda. Perbedaan harga inilah yang mendorong adanya perdagangan internasional. Misalnya, harga komputer di Korea Selatan dan di Jepang lebih murah daripada harga di Indonesia mendorong orang Indonesia membeli komputer tersebut di Korea atau Jepang untuk dijual di Indonesia. Mereka melakukan perdagangan karena memperoleh keuntungan sebagai akibat dari adanya perbedaan harga jual dan harga beli.

c. Asas Keunggulan Komparatif

Keunikan suatu negara tercermin dari apa yang dimiliki oleh negara tersebut yang tidak dimiliki oleh negara lain. Hal ini akan membuat negara memiliki keunggulan dibandingkan negara lain yang dapat diandalkan sebagai sumber pendapatan bagi negara tersebut.

d. Interdependensi Kebutuhan

Masing-masing negara memiliki keunggulan serta kelebihan di masing-masing aspek, bisa di tinjau dari sumber daya alam, manusia, serta teknologi. Kesemuanya itu akan berdampak pada ketergantungan antara negara yang satu dengan yang lainnya.

DAMPAK  PERDAGANGAN INTERNASIONAL.

Perdagangan internasional mempunyai dampak pada negara-negara yang terlibat. Dampak tersebut ada yang positif dan ada yang negatif. Indonesia sebagai negara yang juga melakukan perdagangan internasional memperoleh dampak-dampak tersebut.

1 Dampak Positif Perdagangan Internasional

Negara pengekspor maupun pengimpor mendapatkan keuntungan dari adanya perdagangan internasional. Negara pengekspor memperoleh pasar dan negara pengimpor memperoleh kemudahan untuk mendapatkan barang yang dibutuhkan. Adanya perdagangan internasional juga membawa dampak yang cukup luas bagi perekonomian suatu negara.

Dampak positif  tersebut antara lain sebagai berikut:

 1). Mempererat persahabatan antarbangsa

Perdagangan antarnegara membuat tiap negara mempunyai rasa saling membutuhkan dan rasa perlunya persahabatan. Oleh karena itu, perdagangan internasional dapat mempererat persahabatan negara-negara yang bersangkutan.

 2). Menambah kemakmuran negara

Perdagangan internasional dapat menaikkan pendapatan negara masing-masing. Ini terjadi karena negara yang kelebihan suatu barang dapat menjualnya ke negara lain, dan negara yang kekurangan barang dapat membelinya dari negara yang kelebihan. Dengan meningkatnya pendapatan negara dapat menambah kemakmuran negara.

 3). Menambah kesempatan kerja

Dengan adanya perdagangan antarnegara, negara pengekspor dapat menambah jumlah produksi untuk konsumsi luar negeri. Naiknya tingkat produksi ini akan memperluas kesempatan kerja. Negara pengimpor juga mendapat manfaat, yaitu tidak perlu memproduksi barang yang dibutuhkan sehingga sumber daya yang dimiliki dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih menguntungkan.

 4). Mendorong kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Perdagangan internasional mendorong para produsen untuk meningkatkan mutu hasil produksinya. Oleh karena itu, persaingan perdagangan internasional mendorong negara pengekspor untuk meningkatkan ilmu dan teknologinya agar produknya mempunyai keunggulan dalam bersaing.

 5). Sumber pemasukan kas negara

Perdagangan internasional dapat meningkatkan sumber devisa negara. Bahkan, banyak negara yang mengandalkan sumber pendapatan dari pajak impor dan ekspor.

6). Menciptakan efisiensi dan spesialisasi

Perdagangan internasional menciptakan spesialisasi produk. Negara-negara yang melakukan perdagangan internasional tidak perlu memproduksi semua barang yang dibutuhkan. Akan tetapi hanya memproduksi barang dan jasa yang diproduksi secara efisien dibandingkan dengan negara lain.

 7). Memungkinkan konsumsi yang lebih luas bagi penduduk suatu negara.

Dengan perdagangan internasional, warga negaranya dapat menikmati barang-barang dengan kualitas tinggi yang tidak diproduksi di dalam negeri.

2. Dampak Negatif Perdagangan Internasional

Adanya perdagangan internasional bisa menimbulkan dampak negatif sebagai berikut:

1). Adanya ketergantungan suatu negara terhadap negara lain.

2). Adanya persaingan yang tidak sehat dalam perdagangan internasional.

3). Banyak industri kecil yang kurang mampu bersaing yang gulung tikar.

4). Adanya pola konsumsi masyarakat yang meniru konsumsi negara yang lebih maju.

5).Terjadinya kekurangan tabungan masyarakat untuk investasi. Ini terjadi karena masyarakat menjadi konsumtif.

6). Timbulnya penjajahan ekonomi oleh negara yang lebih maju.

HAMBATAN DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL.

Seringkali terdapat banyak hambatan (Trade Barriers) dalam melakukan perdagangan internasional. Hambatan itu ada yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Adapun hambatan perdagangan internasional dapat dibedakan menjadi dua yaitu Hambatan Tarif dan Non Tarif, seperti dalam penjelasan di bawah ini:

1. Hambatan Tarif

Hambatan Tarif (Tariff Barriers) menurut Henry Simamora (2007) adalah kendala resmi atas importasi barang/jasa tertentu dalam bentuk pembatasan seluruhnya atau sebagian atau dalam bentuk pengenaan bea / pajak khusus.

Tarif adalah pajak atas barang yang bergerak melewati sebuah perbatasan ekonomi atau politis yang dipungut oleh petugas pabean di tempat masuk barang. Tarif yang dipungut atas barang – barang yang masuk ke dalam sebuah negara disebut dengan tarif Impor ( Import Tariff ), sedangkan tarif yang dipungut atas barang – barang yang dikeluarkan dari sebuah negara disebut dengan tarif Ekspor ( Export Tariff ), sedangkan tarif yang dipungut oleh negara yang dilewati barang disebut dengan tarif Persinggahan ( Transit Tariff ).

Sedangkan jika ditinjau dari mekanisme perhitungannya, Dominick Salvatore menyebutkan beberapa jenis tarif, yakni

1. Tarif Spesifik

Tarif spesifik adalah tarif yang dikenakan sebagai beban tetap unit barang yang diimpor, misalnya pungutan 3 dollar untuk setiap barel minyak.

2. Tarif Ad Valorem

Tarif ad valorem adalah pajak yang dikenakan berdasarkan angka persentase tertentu dari nilai barang – barang yang diimpor misalnya, harga CIF suatu barang adalah US$ 100 dan besarnya tarif bea masuk 10%, sedangkan kurs US$1 = Rp. 5.000,- . Maka besarnya bea masuk yang dikenakan sebesar = 10% x US$100 x Rp. 5.000,- = Rp. 50.000,-

3. Tarif Gabungan

Tarif Gabungan adalah campuran dari tarif ad valorem dan tarif spesifik. Contoh : sejenis barang tertentu dikenakan bea 10 %  Ad valoreem ditambah dengan Rp. 50.000,- setiap unit.

Ada 2 (dua) tujuan mengapa pemerintah mengenakan tarif, yaitu untuk memperoleh pendapatan dan memproteksi produsen domestik.

a. Memperoleh pendapatan.

Tarif merupakan sumber pendapatan pemerintah dan merupakan pajak yang paling mudah dipungut.

b. Memproteksi produsen domestik.

Tarif merupakan sebuah siasat untuk melindungi produsen domestik dari serangan produk asing karena dengan adanya tarif impor akan menaikkan biaya barang impor sehingga barang domestik lebih memikat konsumen. Akan tetapi, dalam jangka panjang, proteksi semacam ini berpotensi menyebabkan rasa puas diri dan inefisiensi pada perusahaan domestik yang dapat membuat mereka tidak dapat bersaing di pasar internasional yang keras.

2 Hambatan Non Tarif.

Hambatan Non Tarif ( Non Tariff Barriers ) adalah peraturan, regulasi, dan birokrasi yang menunda atau merintangi pembelian barang – barang asing ( Henry Simamora, 2007).  Hambatan non tarif  bersifat lebih halus daripada tarif akan tetapi dampak ekonominya untuk mengurangi perdagangan kurang lebih serupa dengan tarif.

Ada beberapa jenis hambatan non tarif, yaitu:

1. Kuota impor.

Kuota impor adalah pembatasan secara langsung terhadap jumlah barang yang boleh diimpor dari luar negeri untuk melindungi kepentingan industri dan konsumen. Pembatasan ini biasanya diberlakukan dengan memberikan lisensi kepada beberapa kelompok individu atau perusahaan domestik untuk mengimpor suatu produk yang jumlahnya dibatasi secara langsung. Kuota impor dapat digunakan untuk melindungi sektor industri tertentu dan neraca pembayaran suatu negara. Negara maju pada umumnya memberlakukan kuota impor untuk melindungi sektor pertaniannya. Sedangkan negara-negara berkembang melakukan kebijakan kuota impor untuk melindungi sektor industri manufakturnya atau untuk melindungi kondisi neraca pembayarannya yang seringkali mengalami defisit akibat lebih besarnya impor daripada ekspor.

2. Embargo.

Embargo adalah larangan menyeluruh terhadap perdagangan ( impor maupun ekspor) atas satu atau beberapa jenis produk dengan negara tertentu. Seperti halnya kuota, embargo dapat dikenakan terhadap semua kategori produk kepada sebuah negara.

3. Pembatasan Pembelian Nasional.

Regulasi ini diberlakukan pemerintah untuk memberikan preferensi kepada produsen domestik dengan terkadang menyingkirkan sepenuhnya perusahaan asing. Preferensi pemerintah ini bisa berupa restriksi muatan ( misalnya suatu persentase produk yang dibeli harus berasal dari sumber lokal ) dan bisa pula melalui mekanisme harga ( misalnya pemerintah hanya akan bersedia membeli produk asing bila harganya berada pada margin yang ditetapkan di bawah produsen domestik ).

4. Dumping.

Dumping adalah ekspor  suatu komoditi dengan harga jauh di bawah pasaran, atau penjualan komoditi ke luar negeri dengan harga jauh lebih murah dibandingkan dengan harga penjualan domestiknya. Dumping diklasifikasikan menjadi tiga golongan, yaitu:

 a. Dumping terus-menerus atau International Price Discrimination.

Adalah kecenderungan terus-menerus dari suatu perusahaan monopolis domestik untuk memaksimalkan keuntungannya dengan menjual suatu komoditi dengan harga yang lebih tinggi di pasaran domestik, sedangkan harga yang dipasangnya di pasar luar negeri sengaja dibuat lebih murah.

 b. Dumping harga yang bersifat predator atau Predatory Dumping.

Adalah praktek penjualan komoditi dengan harga yang jauh lebih murah ketimbang harga domestiknya yang berlangsung sementara, namun diskriminasi harganya sangat tajam sehingga dapat mematikan produk pesaing dalam waktu singkat.

 c. Dumping sporadis atau sporadic dumping.

Adalah praktek penjualan suatu komoditi ke luar negeri dengan harga yang sedikit lebih murah daripada produk domestik, namun hanya terjadi saat ingin mengatasi surplus komoditi yang sesekali terjadi tanpa menurunkan harga domestik.

5. Subsidi Ekspor.

Subsidi ekspor adalah pembayaran langsung atau pemberian keringanan pajak dan bantuan subsidi dari pemerintah kepada para eksportir atau calon eksportir nasional, dan atau pemberian pinjaman berbunga rendah kepada para pengimpor asing dalam rangka memacu ekspor suatu negara. Subsidi ini membantu produsen domestik melalui dua cara, yaitu: membantu mereka bersaing melawan produk impor berharga murah, dan subsidi membantu mereka merebut pasar ekspor.

6. Hambatan Teknis.

Pemerintah memiliki kewajiban untuk melindungi masyarakatnya dari berbagai produk asing yang berbahaya dengan menetapkan beragam standar, akan tetapi standar itu dapat pula dipergunakan untuk menghambat perdagangan. Standar – standar produk dan proses untuk kesehatan, kesejahteraan, keselamatan, mutu, dan ukuran dapat menciptakan hambatan perdagangan dengan menyingkirkan produk yang tidak memenuhi standar.

GLOBALISASI EKONOMI

Secara sederhana globalisasi ekonomi dapat diartikan sebagai suatu proses dimana semakin banyak negara yang terlibat langsung dalam kegiatan ekonomi global. Globalisasi ekonomi ditandai dengan semakin menipisnya batas-batas geografi dari kegiatan ekonomi atau pasar secara nasional atau regional, tetapi mengglobal menjadi “satu“ proses yang melibatkan banyak negara. Semakin menipisnya batas–batas geografi dari kegiatan ekonomi secara nasional maupun regional, disebabkan oleh banyak hal, diantaranya adalah karena komunikasi dan transportasi yang semakin canggih dan  murah, lalu lintas devisa yang semakin bebas, perekonomian negara yang semakin terbuka, penggunaan secara penuh keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif tiap– iap negara, metode produksi yang semakin efisien dan semakin pesatnya perkembangan perusahaan multinasional di hampir seluruh dunia.

Menurut Friedman (2002) dalam Tambunan (2004), globalisasi mempunyai 3 (tiga) dimensi, yaitu (1) Dimensi Ideologi yaitu “ Kapitalisme” dimana globalisasi memiliki seperangkat nilai yang menyertainya yaitu falsafah individualisme, demokrasi dan HAM. , (2) Dimensi Ekonomi, yaitu pasar bebas yang artinya arus barang dan jasa antar negara tidak dihalangi sedikitpun, dan (3) Dimensi Teknologi, khususnya teknologi informasi yang akan membuka batas – batas negara sehingga negara semakin tanpa batas.

Globalisasi memberikan dampak terhadap perekonomian suatu negara, baik secara positif maupun negatif, tergantung pada kesiapan negara tersebut dalam menghadapi peluang – peluang maupun tantangan – tantangan yang muncul dari proses tersebut. Terdapat 4 (empat) wilayah dalam perekonomian negara yang secara umum terpengaruh oleh adanya globalisasi, yaitu:

1. Ekspor.

Dampak positifnya adalah ekspor atau pangsa pasar dunia dari suatu negara menjadi meningkat, akan tetapi juga bisa sebaliknya berdampak negatif dimana suatu negara kehilangan pangsa pasar dunianya, yang selanjutnya berdampak terhadap volume produksi dalam negeri serta meningkatkan jumlah pengangguran dan tingkat kemiskinan.

2. Impor.

Dampak negatifnya adalah peningkatan impor yang apabila tidak dapat dibendung karena daya saing yang rendah dari produk – produk serupa buatan dalam negeri, maka tidak mustahil suatu saat pasar domestik sepenuhnya akan dikuasai oleh produk – produk dari luar negeri.

3. Investasi.

Globalisasi membuat bebasnya arus modal antar negara yang berpengaruh terhadap arus investasi. Jika daya saing investasi di suatu negara rendah, dalam arti iklim berinvestasi di dalam negeri tidak kondusif dibandingkan dengan iklim berinvestasi di negara lain, maka bukan saja arus modal ke dalam negeri yang berkurang tetapi modal investasi domestik akan lari ke luar negeri, yang pada akhirnya akan berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan produksi dalam negeri dan ekspor.

4. Tenaga Kerja.

Dampak negatifnya adalah membanjirnya tenaga ahli dari luar negeri dan apabila kualitas SDM / tenaga kerja di dalam negeri tidak ditingkatkan, maka bukan mustahil pasar tenaga kerja atau peluang kesempatan kerja di dalam negeri akan dikuasai oleh orang asing.

Banyak pihak berpendapat bahwa bagi negara sedang berkembang (NSB), globalisasi akan lebih banyak merugikan daripada menguntungkan. Khor (2002) dalam Tambunan (2004) berpendapat bahwa globalisasi ekonomi mempengaruhi berbagai kelompok negara secara berbeda, dimana secara umum dampak dari proses ini dapat dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) grup negara, yaitu:

a. Grup Pertama

Adalah sejumlah kecil negara yang mempelopori atau yang terlibat secara penuh dalam proses ini, yang umumnya adalah negara – negara maju, yang mengalami pertumbuhan dan perluasan kegiatan ekonomi yang pesat. Grup pertama ini biasa disebut dengan New Industrial Country / NIC’s yang didominasi oleh negara-negara kelompok G7 (AS, Kanada, Australia, Perancis, Jerman, Inggris dan Jepang). Negara-negara dalam grup ini adalah yang paling banyak mendapatkan keuntungan dari adanya globalisasi perekonomian dunia

b. Grup Kedua.

Adalah negara – negara yang mengalami pertumbuhan ekonomi yang sedang dan fluktuatif (Developing Country), yakni negara – negara yang berusaha menyesuaikan diri dengan kerangka globalisasi ekonomi. Termasuk ke dalam grup ini adalah Negara Sedang Berkembang (NSB) yang tingkat pembangunannya / kemajuan industrinya sudah mendekati tingkat kemajuan negara – negara NIC’s.

c. Grup Ketiga.

Adalah negara – negara yang termarginalisasikan karena ketidakmampuan mereka mengatasi tantangan yang muncul dari proses globalisasi ekonomi. Grup ini didominasi oleh NSB yang berkategori Least Developed Country (negara terbelakang) seperti negara – negara Afrika (kecuali Afrika Selatan), Timur Tengah (kecuali negara – negara penghasil minyak), Asia Selatan (kecuali India dan Pakistan), serta Amerika Latin ( kecuali Brasil, Argentina, Meksiko dan Chili).

Dari penggolongan di atas, nampak ketimpangan dan ketidakmerataan pendapatan antar kelompok negara yang dianggap sebagai hasil dari globalisasi. Ketimpangan tersebut berakar dari ketidak siapan dari negara – negara sedang berkembang (NSB) yang memiliki posisi perekonomian yang lemah, rendahnya kapasitas ekonomi untuk memulai integrasi dengan pasar dunia, serta belum berkembangnya infrastruktur sosial sebagai warisan dari masa penjajahan ( Nayyar, 1997 dalam Tambunan, 2004). Selain itu, lemahnya daya tawar dan kemampuan negosiasi mereka dalam hubungan internasional yang disebabkan jumlah utang luar negeri yang besar dan ketergantungan pada bantuan donor bilateral maupun multilateral seperti Bank Dunia dan IMF, juga memberi andil pada munculnya ketimpangan tersebut.

Sebab lain mengapa negara – negara Least Developed Country di Afrika menjadi termarginalisasi dalam globalisasi perekonomian dunia sebenarnya juga adalah dikarenakan kesalahan mereka sendiri dimana data IMF menunjukkan bahwa rezim perdagangan di Afrika lebih restriktif dibandingkan dengan negara – negara lain di dunia (Ajayi, 2001 dalam Tambunan, 2004). Data IMF menunjukkan bahwa sampai dengan tahun 2000, di Afrika tercatat masih ada 14% negara yang masih menerapkan sistem perekonomian tertutup, 24% menganut sistem perekonomian moderat dan sisanya 43% menganut sistem perekonomian liberal. Sebagai perbandingan, pada tahun 2000, IMF mencatat di seluruh dunia terdapat 15% negara yang masih menganut sistem perekonomian tertutup, 24% menganut sistem perekonomian moderat, dan sisanya 61% menganut sistem perekonomian liberal.

Pendapat lain mengenai mengapa NSB di Afrika dan Timur Tengah mengalami ketertinggalan dalam proses globalisasi menurut Abed (2003) dalam Tambunan (2004) adalah karena proses reformasi ekonomi yang berjalan lambat dimana peran pemerintah yang masih sangat dominan.

Untuk mengejar ketertinggalannya, negara Least Developed Country harus melakukan langkah peningkatan efisiensi ekonomi dalam negeri mereka, karena ini sangat menentukan daya saing di pasar global dan juga untuk menarik investasi dari luar (Calamistis, 2000 dalam Tambunan, 2004). Selain itu, negara industri maju (NIC’s) harus menghilangkan restriksi terhadap impor dari negara-negara Afrika, sedangkan negara-negara Afrika itu sendiri harus mengembangkan suatu strategi perdagangan yang terkoordinasi baik di antara sesama mereka melalui integrasi ekonomi regional, seperti yang dilakukan kelompok negara-negara lain dalam ASEAN, NAFTA, UE, dll

PERMASALAHAN DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Tidak selamanya kegiatan perdagangan internasional dapat berjalan sesuai dengan kondisi yang diinginkan, biasanya  sering terjadi hambatan atau masalah-masalah yang menjadi faktor penghalang bagi setiap negara yang terlibat didalamnya.

Masalah tersebut terbagi dalam dua kelompok utama yaitu masalah internal dan eksternal.

A.          FAKTOR  EKSTERNAL

         Masalah yang bersifat eksternal meliputi hal-hal yang terjadi di luar perusahaan yang akan mempengaruhi kegiatan ekspor impor. Masalah tersebut antara lain :

1.            Kepercayaan Antara Eksportir Importir

Kepercayaan adalah salah satu faktor eksternal yang penting untuk menjamin terlaksananya transaksi antara eksportir dan importir. Dua pihak yang tempatnya berjauhan dan belum saling mengenal merupakan suatu resiko bila dilibatkan dengan pertukaran barang dengan uang. Apakah importir percaya untuk mengirimkan uang terlebih dahulu kepada eksportir sebelum barang dikirim atau sebaliknya apakah eksportir mengirimkan barang terlebih dahulu kepada importir sebelum melakukan pembayaran.

Oleh karena itu, sebelum kontrak jual beli diadakan masing-masing pihak harus sudah mengetahui kredibilitas masing-masing.

2.            Pemasaran

Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam masalah ini adalah ke negara mana barang akan dipasarkan untuk mendapatkan harga yang sebaik-baiknya. Sebaliknya bagi importir yang penting diketahui adalah dari mana barang-barang tertentu sebaiknya akan diimpor untuk memperoleh kondisi pembayaran yang lebih baik. Dalam hal penetapan harga komoditi ekspor dan konsep pemasarannya, eksportir perlu mengetahui apakah dapat bersaing dalam penjualannya di luar negri, dengan mengetahui informasi mengenai :

  1. ongkos atau biaya barang
  2. sifat dan tingkat persaingan
  3. luas dan sifat permintaan

Masalah pokok lain dalam hal pemasaran yang sering dihadapi oleh eksportir maupun importir adalah daya saing, yang meliputi :

  1. Daya saing rendah dalam harga dan waktu penyerahan
  2. Daya saing dianggap sebagai masalah intern eksportir, padahal sesungguhnya menjadi masalah nasional
  3. Saluran pemasaran tidak berkembang di luar negeri
  4. Kurangnya pengetahuan akan perluasan pemasaran serta teknik-teknik pemasaran

3.            Sistem Kuota dan Kondisi Hubungan Perdagangan Dengan Negara Lain

Keinginan Eksportir dan importir untuk mencari, memelihara atau meningkatkan hubungan dagang dengan sesamanya juga tergantung pada kondisi negara kedua pihak yang bersangkutan. Bilamana terdapat pembatasan seperti ketentuan kuota barang dan kuota negara, maka upaya meningkatkan transaksi yang saling menguntungkan tidak sepenuhnya dapat terlaksana.

Upaya yang dapat dilakukan oleh setiap negara adalah dengan meningkatkan hubungan antar negara baik yang bersifat bilateral, multilateral, regional maupun internasional, guna menciptakan suatu aturan dalam hal pembatasan barang (kuota) bagi transaksi perdagangan.

  1. 4.           Keterkaitan Dalam Keanggotaan Organisasi Internasional

Keikutsertaan suatu negara dalam organisasi internasional dimaksudkan untuk mengatur stabilitas harga barang ekspor di pasar internasional. Namun terlepas dari manfaat yang diperoleh dari keanggotaan organisasi tersebut, keanggotaan didalamnya tak jarang merupakan penghambat untuk dapat melakukan tindakan tertentu bagi peningkatan transaksi komoditi yang bersangkutan, seperti contoh ICO dengan kuota kopi,dan OPEC.

  1. 5.           Kurangnya Pemahaman Akan Tersedianya Kemudahan-kemudahan

Internasional

Kemudahan-kemudahan internasional seperti yang dilakukan negara-negara ASEAN melalui ASEAN Preferential Trading Arrangement (1977), ASEAN Industrial Complementation scheme (1981), ASEAN Industrial Joint-Ventures scheme (1983), dan Enhanced Preferential Trading arrangement (1987), dan ASEAN Free Trade Area / AFTA (1993) dengan Common Effective Preferential Tariff  (CEPT) sebagai mekanisme utama yang memberikan eliminasi tarif, penghapusan hambatan-hambatan non-tarif, dan perbaikan terhadap kebijakan fasilitasi perdagangan. Pemahaman akan berbagai kemudahan ini perlu lebih ditekankan bagi para pelaku ekspor impor.

B. FAKTOR INTERNAL

Masalah yang bersifat internal meliputi hal-hal yang terjadi di dalam perusahaan yang akan mempengaruhi kegiatan ekspor impor. Masalah tersebut antara lain :

  1. 1.            Persiapan Teknis

Menyangkut persyaratan-persyaratan dasar untuk pelaksanaan transaksi ekspor impor berupa :

  1. Status badan hukum perusahaan
    1. Adanya izin usaha (SIUP) serta izin ekspor maupun impor ( APIP, APIU, SPR, NPIK, dll ).
    2. Kemampuan menyiapkan persyaratan-persyaratan lain seperti dokumen pengapalan, realisasi pengapalan serta kejujuran dan kesungguhan berusaha.
  2. 2.            Kemampuan dan Pemahaman Transaksi Luar Negeri

Keberhasilan transaksi ekspor impor sangat didukung oleh sejauhmana pengetahuan atau pemahaman eksportir/importir menyangkut dasar-dasar transaksi ekspor impor, tata cara pelaksanaan, pengisian dokumen serta peraturan-peraturan dalam dan luar negeri.

  1. 3.            Pembiayaan

Pembiayaan transaksi merupakan masalah yang penting yang tidak jarang dihadapi oleh para pengusaha eksportir/importir kita. Biasanya masalah yang dihadapi antara lain ketercukupan akan dana, fasilitas pembiayaan dana yang dapat di peroleh serta bagaimana cara memperolehnya.

  1. 4.            Kekurangsempurnaan Dalam Mempersiapkan Barang

Khusus dalam transaksi ekspor, kurang mampunya eksportir dalam menanggulangi penyiapan barang dapat menimbulkan akibat yang tidak baik bagi kelangsungan hubungan transaksi dengan rekannya di luar negri.

Masalah-masalah yang timbul adalah akibat dari hal-hal berikut :

a.      Pengiriman barang terlambat disebabkan oleh kesulitas administrasi dan pengaturan pengangkutan, peraturan-peraturan pemerintah dan sebagainya.

b.      Mutu barang yang tidak dapat dipertahankan sesuai dengan perjanjian

c.      Kelangsungan penyediaan barang sesuai dengan perjanjian tidak dapat dipenuhi.

d.      Pengepakan yang tidak memenuhi syarat

e.      Keterlambatan dalam pengiriman dokumen-dokumen pengapalan.

  1. 5.            Kebijaksanaan Dalam Pelaksanaan Ekspor Impor

Kelancaran transaksi ekspor impor sangat tergantung pada peraturan-peraturan yang mendasarinya.

**********

DAFTAR PUSTAKA:

 

Amalia, Lia, (2007), Ekonomi Internasional, Penerbit Graha Ilmu, Yogyakarta

Boediono, (1997), Ekonomi Internasional, Edisi I, Penerbit BPFE, Yogyakarta.

Simamora, Henry, (2007), Manajemen Pemasaran Internasional, Jilid 1, Penerbit Salemba Empat

Tambunan, Tulus, (2004), Globalisasi dan Perdagangan Internasional, Penerbit Ghalia

Perdagangan Internasional, tersedia di http://id.wikipedia.com/wiki/perdagangan internasional.htm, diakses tanggal 05 September 2011

Advertisements

One thought on “Perdagangan Internasional, Globalisasi Ekonomi dan Permasalahannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s