Ketika anakku mulai narsis

Standard

narsis

Sore akhir pekan itu saat membersihkan kamar Aqis, anak saya yang berumur 10 tahun,  muncul iseng  untuk membuka PC Tabletnya.  Terkadang saya membuka untuk mengetahui games – games apa yang biasa ia mainkan atau ia download. Saat saya  membukanya, saya sedikit geli melihat banyak sekali foto selfie  Aqis dalam berbagai pose ala fotomodel. Masih lugu sih…Cuma saya  tidak menyangka kalau ia sudah bisa bergaya seperti itu…sangat berbeda dengan kesehariannya yang tampak biasa saja dengan jilbabnya.  Saat  saya tunjukkan pada suami, muncul komentar “ jangan-jangan mama dulu juga narsis kayak dia”

Waahh….my baby girl sudah bisa narsis…Untung dia belum saya kenalkan pada media sosial facebook, Instagram dan teman-temannya..Jujur saya belum siap bila anak saya menemukan tempat penyaluran narsis nya.

Malam hari saat ngobrol sepulang dia les, saya menggodanya perihal foto-foto selfienya. Dia tertawa…tidak protes mamanya membuka buka ruang pribadinya…..” Ahh…mama…biasakan mah..narsis dikit kan ngga papa, temen temen juga punya kok foto narsis kayak gitu…Yang penting kan ngga dipamer pamerin…” …..Jawaban cerdas itu pasti sudah ditunggu-tunggu ayahnya. Saya balik tanya….”narsis itu apa sih nak?” Aqis: “ Ngga tau…pokoknya gaya – gaya gitu deh…biar keliatan cantik…” Waaahh….ternyata dia sudah ingin terlihat cantik….

Berbicara tentang narsis, saya membaca beberapa referensi mengenai apa itu narsis.

Menurut Sigmund Freud, kata narsis diambil dari tokoh dalam mitos Yunani yang bernama Narkissos. Karena suka bercermin di atas air kolam, tokoh tersebut dikutuk oleh dewa sehingga ia mencintai bayangannya sendiri di kolam. Secara tidak  sengaja ia menjulurkan tangannya, dan tenggelam sehingga tumbuh menjadi bunga yang sampai sekarang bunga itu disebut “Bunga Narsis”.

Hemmm…..ternyata narsis berasal dari sejarah yang kelam.

Saya mencoba mencari referensi lain tentang narsis. Saya menuju ke Wikipedia. Dari situ saya mengetahui bahwa  Narsisme adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Orang yang mengalami gejala ini disebut narsisis (narcissist). Sifat narsisisme ada dalam setiap manusia sejak lahir, bahkan Andrew Morrison berpendapat bahwa dimilikinya sifat narsisisme dalam jumlah yang cukup akan membuat seseorang memiliki persepsi yang seimbang antara kebutuhannya dalam hubungannya dengan orang lain. Narsisisme memiliki sebuah peranan yang sehat dalam artian membiasakan seseorang untuk berhenti bergantung pada standar dan prestasi orang lain demi membuat dirinya bahagia.

Sampai disini saya bisa tersenyum. Ya…saya setuju. Aqis memang cukup baik tingkat kepercayaan dirinya saat di sekolah. Menurut Ustadzahnya di sekolah, Aqis memiliki frekuensi tertinggi dalam mengacungkan tangan di kelas, baik  untuk menjawab pertanyaan maupun bertanya bila ada yang tidak dia mengerti. Wajarlah kalau dia bisa narsis karena PD nya juga tinggi, pikir saya.  Karena PD itu juga, ia mudah mendapat teman baru dan cukup dikenal di sekolahnya, baik adik maupun kakak kelas….( kata Ustadzahnya…..)

Tapi saat membaca kelanjutannya dari Wikipedia, cukup membuat kening saya berkerut.

“ Tingkat Narsisme apabila jumlahnya berlebihan, dapat menjadi suatu kelainan kepribadian yang bersifat patologis. Kelainan kepribadian atau bisa disebut juga penyimpangan kepribadian merupakan istilah umum untuk jenis penyakit mental seseorang, dimana pada kondisi tersebut cara berpikir, cara memahami situasi dan kemampuan berhubungan dengan orang lain tidak berfungsi normal. Kondisi itu membuat seseorang memiliki sifat yang menyebabkannya merasa dan berperilaku dengan cara-cara yang menyedihkan, membatasi kemampuannya untuk dapat berperan dalam suatu hubungan. “

Lebih lanjut…”Seseorang yang narsis biasanya memiliki rasa percaya diri yang sangat kuat, namun apabila narsisme yang dimilikinya sudah mengarah pada kelainan yang bersifat patologis, maka rasa percaya diri yang kuat tersebut dapat digolongkan sebagai bentuk rasa percaya diri yang tidak sehat, karena hanya memandang dirinya lah yang paling hebat dari orang lain tanpa bisa menghargai orang lain”

Wow wow….membaca sampai disitu sudah cukup membuat saya pasang kuda-kuda untuk mengerem sifat narsis yang bibitnya mulai muncul pada Aqis. Tentu saja sebagai orang tua saya ingin ia menjadi anak yang baik, bisa berempati pada orang lain dan sholehah pastinya.  Sebagai orang tua, saya dan suami selalu menekankan hal – hal yang bersifat normatif, salah satunya “Tidak Boleh Merasa Paling…”. Naah…narsis ini punya potensi menumbuhkan bibit sombong apabila tidak terkontrol dengan baik. Tentu saja tanpa mengabaikan sisi positif dari sifat PD yang dimilikinya, saya menyimpulkan bahwa PD itu juga perlu dikontrol. Akan lebih baik kalau PD nya itu tidak ditimbulkan dari hal – hal yang bersifat  fisik (baca: kecantikan), tetapi berasal dari intelektualitas, attitude dan syukur yang tak bertepi atas semua anugerah yang telah diberikan Allah SWT kepadanya.

Dan, malam harinya, saat menjelang tidur, saya iseng bertanya padanya…” Nak, yang boleh lihat foto narsis nya siapa aja sih”. Aqis: “ Ayah, Mama, dan  sahabat saja. Itupun dia harus minta ijin dulu sama aku. Yang lain-lain….ehmmm…kayaknya ngga deh ma…Aku masih malu”

Ok….good girl….

Advertisements

One thought on “Ketika anakku mulai narsis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s