Refleksi kecil pengabdianku

Standard

images teacher

Enam tahun sudah. Tak terasa…saat ini aku sudah menginjak tahun ke 6 mengabdikan diri sebagai pendidik di LP3i. Terus terang aku merasa lebih nyaman disebut sebagai pendidik (edukator) atau pengajar (teacher) dibanding disebut sebagai dosen, walaupun secara formal di LP3i sebutan itulah yang disematkan padaku.

Pagi ini, aku membuka kembali memoriku. Kala itu, 9 tahun berkarir sebagai profesional di berbagai perusahaan tak juga membuatku menemukan apa yang aku cari. Saat itu, saat aku memutuskan mengambil sebuah kesempatan untuk menemukannya, aku sadar bahwa aku akan masuk dalam dunia yang sangat berbeda dengan apa yang sudah kugeluti selama 9 tahun. Aku juga menyiapkan diri untuk selalu menjadi pribadi yang ikhlas…ini karena dunia yang baru kumasuki itu tak bisa memberikan imbalan secara finansial yang besar bila dibandingkan dengan apa yang telah kuperoleh sebelumnya. Tapi…entah kenapa…panggilan itu begitu kuat.

Saat itu, suami mengingatkanku bahwa Allah SWT telah memberikan sebuah kesempatan untuk mendapatkan 1 dari 3 amalan yang tidak akan terputus pahalanya hingga hari akhir , yaitu dalam Sabda Rasulullah: “Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim). “ Aku mulai berpikir, apa yang akan aku lakukan pada ilmu dan pengalamanku? Bisakah ia menolongku kelak di hari akhir? Karena itulah, tak perlu lama aku menjawab tawaran peluang tersebut.

Ternyata banyak yang bisa aku bagikan pada murid – muridku. Mulai dari mata kuliah di hari pertama ku mengajar: Pengantar Exim. Aku ingat, kelas pertama yang aku pegang adalah D3-Manajemen Perkantoran (Office Management). Yang hadir di kelas saat itu hanya 4 orang. Ya Allah….Kalau ingat…bisa senyum-senyum sendiri. Perlahan tapi pasti…Semakin banyak kelas dan semakin banyak yang perlu aku bagi: Administrasi Perkantoran, Pengantar Manajemen, Korespondensi Bisnis, Sistem Informasi Manajemen, Manajemen Operasional, Manajemen Kearsipan…dan semua yang diperintahkan padaku untuk aku bagi. Sampai saat ini aku masih memegang sebuah prinsip bahwa ilmu yang aku bagikan harus dapat membuat hidup orang lain menjadi lebih baik, lebih berkualitas dan lebih bermanfaat untuk orang banyak. Oleh sebab itu, aku tidak menekankan pada mereka untuk menguasai ilmunya saja, tetapi lebih pada bagaimana ilmu itu bisa mereka terapkan secara bersamaan dengan attitude yang baik di tempat kerja mereka.

Di tahun ke 6 ini, rasanya aku perlu membuat sebuah refleksi.

Di tahun ke 6 ini, aku sudah sangat terbiasa dengan beragam ekspresi wajah dan tatapan mata dari mereka yang duduk di hadapanku dalam kelas. Ekspresi wajah dan tatapan mata yang kalau dilakukan penelitian secara serius, bisa jadi ada hubungannya dengan letak / posisi tempat duduk mereka. Di depan, tengah atau belakang / pojok. Dari ekspresi wajah dan tatapan mata mereka, terkadang aku bisa mengambil kesimpulan apakah mereka paham atau tidak. Tertarik dengan materinya ataukah tidak. Dari ekspresi wajah dan tatapan mata, aku bisa secara fleksibel merubah gaya bicara, intonasi, volume suara dan berimprovisasi secara langsung di dalam kelas.

Ada sebuah catatan kecil yang menarik untuk aku tuliskan di sini. Dari semua jurusan yang pernah aku ajar : Business Administration, Computerized Accounting, Informatics Computer, dan Graphic Design, dari tahun ke tahun, tidak semua kelas / jurusan memberikan ekspresi wajah dan tatapan mata yang aku harapkan. Ekspresi wajah dan tatapan mata yang menyiratkan antusiasme, semangat, mencoba untuk mengerti walau sulit, dan “ ooh…ini sesuatu yang baru dan asyik untukku”. Itulah yang sangat aku tunggu dari mereka. Antusiasme dan semangat adalah ekpresi yang di waktu – waktu tertentu terkadang hilang seiring dengan mulai menumpuknya tugas – tugas kuliah mereka. Deadline yang mepet, serangan rasa jenuh, dan problem percintaan remaja terkadang meberi andil juga pada masalah ini. Wajar lah…untuk usia mereka. Aku mencoba berempati pada mereka. Itu menjadi kewajibanku untuk membuat mereka antusias lagi. Dan ini tentu saja menjadi tantangan bagi semua pendidik.

Yang menarik adalah, dari tahun ke tahun, sebagian besar murid – muridku di jurusan Informatics Computer yang menempuh mata kuliah M.O.A (Modern Office Administration) selalu menjadi mereka yang memiliki ekspresi wajah dan tatapan mata persis seperti yang aku harapkan. Antusiasme, semangat, mencoba untuk mengerti walau sulit, dan “ ooh…ini sesuatu yang baru dan asyik untukku ”. Padahal, sebagai mahasiswa yang minat dan pegangan utamanya adalah Komputer, selama 1 semester kuliah hanya dengan melihat slide dari ku saja, bisa jadi akan membuat mereka jenuh. Dengan tidak mengabaikan jurusan yang lain, ternyata kepuasan mengajarku yang tertinggi adalah pada saat tuntas memberikan materi di jurusan ini.

IC1401

Catatan menarik lainnya dari refleksi kecilku ini adalah beberapa kali di luar kampus aku bertemu dengan para alumni yang masih mengingatku, padahal aku sudah lupa nama, jurusan dan angkatan mereka. Dengan kondisi yang berbeda tentunya. Dulu mereka muridku, dan sekarang mereka adalah karyawan profesional dengan gaji yang cukup lumayan. Kepuasan mengajarku yang kedua, ada pada momen ini. Saat mereka mengatakan “ Mem..saya sekarang bekerja di bagian …titik titik…., yang saya kerjakan di kantor berkisar ….titik titik….. Terimakasih Mem, dulu saya diajari …titik titik….Apa yang saya kerjakan sekarang, persis seperti yang Mem sampaikan di kelas dulu. Copy slide Mem, masih saya simpan sampai sekarang….”

Subhanallah….Dan nikmat Allah mana yang kamu dustakan. Alhamdulillah.

Di tahun yang ke 6 ini, aku merasa masih banyak kekurangan. Saat koreksi tugas dan ujian, aku masih sering tidak bisa berdisiplin. Terkadang karena satu hal, aku datang terlambat. Aku sering tidak tegaan sehingga jadi bulan – bulanan muridku sendiri. Aku sering lupa kelas mana yang belum mendapat jadwal praktek.  Aku sering di cap pelit nilai. Ujianku sering dianggap minim waktu. Aku lebih sering mengingat nama mahasiswa pintar daripada mahasiswa yang biasa – biasa saja. Aku yang begini…dan aku yang begitu. Terlalu banyak kekuranganku…Itu Cuma dari ingatanku saja…belum lagi dari penilaian orang lain.

Refleksi ini menyisakan pekerjaan rumah untukku, berusaha menjadi pendidik yang lebih baik yang bekerja dengan hati. Mengapa? Karena aku tahu….Teaching is a work of heart.

Special untuk sahabat yang menginspirasiku.

inspire

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s